Imajinasi yg Mematikan

"Sebenarnya seorang manusia adalah apa yg ia pikirkan" -James Allen.





Nick Sitzman adalah seorang pekerja rel kereta api yg masih muda & ambisius. sehat & kuat. Ia bereputasi pekerja keras yang rajin & punya isteri yang menyayangi serta 2 orang anak & banyak teman.
Pada suatu hari musim panas, kru kereta api diberitahu bahwa mereka boleh pulang satu jam lebih awal untuk merayakan ulang tahun mandor mereka. Ketika sedang melakukan pemeriksaan terakhir pada gerbong kereta, Nick tak sengaja terkunci dalam sebuah gerbong pendingin. Ketika sadar para pekerja yang lain sudah meninggalkan lokasi, Nick mulai panik.
Ia gedor2 pintu & berteriak sampai kepalanya berdarah & suaranya serak, tapi tidak ada yg mendengarnya. Dengan pengetahuannya tentang "angka & kenyataan", ia perkirakan suhunya nol derajat. Pikiran Nick adalah 'jika tidak bisa keluar, aku akan mati beku di sini'. Karena ingin isteri & keluarganya tahu persis apa yg terjadi padanya, Nick cari sebuah pisau & mulai ukir kata2nya di atas lantai kayu,"Dingin sekali, badanku mulai mati rasa. Jika saja aku tidur. Ini mungkin pesan terakhirku."

Keesokan paginya, para kru buka pintu tebal gerbong pendingin itu & temukan Nick tewas. Autopsi memperlihatkan setiap tanda fisik tubuhnya menunjukkan ia mati kedinginan. Padahal unit pendingin gerbong itu tdk berfungsi & suhu di dalam adalah 12 derajat celcius. "Nick telah bunuh dirinya sendiri dengan kekuatan pikirannya sendiri".
Jika tdk hati2, Anda bisa bunuh diri sendiri- tidak langsung seperti Nick, tapi sedikit demi sedikit, hari demi hari, sampai Anda per-lahan2 matikan kemampuan alami untuk capai impian Anda.
===
"Tuhan mengikuti persangkaan hamba-Nya (Al-Hadits)" , yg sekarang banyak orang menyebutnya 'Believe System'.

3 comments

  1. Qittun  

    2008 Oktober 12 22:36

    jadi merinding dengar ceritanya...

  2. gus  

    2008 Oktober 15 22:03

    sedahsyat itukah kekuatan pikiran kita? mau nyoba ah....

  3. ben  

    2009 Maret 6 01:26

    bagus banget neh, izin copas ya bang :top:

Poskan Komentar

Baca Juga Yang Ini

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

komentar terakhir