Akhir - akhir ini di media cetak, elektronik lagi gencar - gencarnya memberitakan tentang eksekusi terpidana mati kasus bom bali (imam samudera, amrozi, mukhlas), ada satu yang menarik dari kasus ini ialah masalah eksekusi yang tertunda beberapa kali karena hal - hal yang tidak terduga, yang terakhir eksekusi tertunda karena pulau nusakambangan diguyur hujan seharian.


kemarin pas saya lagi browsing saya membaca artikel menarik di http://www.bantenlink.com tentang wasiat dari salah satu tersangka bom bali Abu Zaid Ali Gufron atau Mukhlas. wasiat ini ada 2, satu ditujukan untuk kaum muslimin di dunia dan satunya untuk keluarganya.

yang menarik perhatian saya adalah wasiat yang ditujukan untuk kaum muslimin, disitu Mukhlas mengutarakan perasaan yang beliau alami saat ini, perasaan yang beliau rasakan saat para eksekutor bersiap untuk mengeksekusinya. Beliau menggambarkan perasaan beliau sekarang seperti kisah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sewaktu dipenjara benteng Damaskus.

tapi ada satu pertanyaan yang belum terjawab, Mukhlas disini menulis sebuah wasiat atau ajakan bagi umat muslim ?

yang saya takutkan adalah jika masyarakat atau muslimin khususnya, membaca wasiat ini dan salah mengartikannya, akibatnya adalah sangat fatal.

maksudnya fatal disini adalah kita ambil contoh begini, ada seorang pemuda atau artikanlah seorang santri muda yang membaca artikel ini, dan santri muda ini salah mengartikan bahwa dia akan mati sahid atau bisa merasakan apa yang dirasakan sama Mukhlas jika dia meniru mereka (trio bom bali), anda akan tahu sendiri kan akibatnya? itu jika hanya ada satu jika ada lebih dari satu?? bukannya saya ilfill tapi masalahnya disini adalah iman para muslimin di negara kita masih sangat mudah menerima ajaran2 dari suatu aliran tertentu atau ajakan tertentu dengan embel2 dapat Ridho dari Allah SWT, sudah bisa kita lihat kan kelabilan sifat para muslimin kita itu ?

di bawah isi wasiat Mukhlas (salah satu terpidana mati bom bali):

Baca Selengkapnya......

Imajinasi yg Mematikan

"Sebenarnya seorang manusia adalah apa yg ia pikirkan" -James Allen.





Nick Sitzman adalah seorang pekerja rel kereta api yg masih muda & ambisius. sehat & kuat. Ia bereputasi pekerja keras yang rajin & punya isteri yang menyayangi serta 2 orang anak & banyak teman.
Pada suatu hari musim panas, kru kereta api diberitahu bahwa mereka boleh pulang satu jam lebih awal untuk merayakan ulang tahun mandor mereka. Ketika sedang melakukan pemeriksaan terakhir pada gerbong kereta, Nick tak sengaja terkunci dalam sebuah gerbong pendingin. Ketika sadar para pekerja yang lain sudah meninggalkan lokasi, Nick mulai panik.
Ia gedor2 pintu & berteriak sampai kepalanya berdarah & suaranya serak, tapi tidak ada yg mendengarnya. Dengan pengetahuannya tentang "angka & kenyataan", ia perkirakan suhunya nol derajat. Pikiran Nick adalah 'jika tidak bisa keluar, aku akan mati beku di sini'. Karena ingin isteri & keluarganya tahu persis apa yg terjadi padanya, Nick cari sebuah pisau & mulai ukir kata2nya di atas lantai kayu,"Dingin sekali, badanku mulai mati rasa. Jika saja aku tidur. Ini mungkin pesan terakhirku."

Keesokan paginya, para kru buka pintu tebal gerbong pendingin itu & temukan Nick tewas. Autopsi memperlihatkan setiap tanda fisik tubuhnya menunjukkan ia mati kedinginan. Padahal unit pendingin gerbong itu tdk berfungsi & suhu di dalam adalah 12 derajat celcius. "Nick telah bunuh dirinya sendiri dengan kekuatan pikirannya sendiri".
Jika tdk hati2, Anda bisa bunuh diri sendiri- tidak langsung seperti Nick, tapi sedikit demi sedikit, hari demi hari, sampai Anda per-lahan2 matikan kemampuan alami untuk capai impian Anda.
===
"Tuhan mengikuti persangkaan hamba-Nya (Al-Hadits)" , yg sekarang banyak orang menyebutnya 'Believe System'.

Baca Juga Yang Ini

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

komentar terakhir